Berperkara Dengan Bahaya
Hujan turun sore ini. Mengingatkanku pada Twilight yang belum selesai saya baca. Sebuah novel yang sangat menarik, bercerita tentang sorang manusia, seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang laki-laki. Dan sialnya adalah seorang drakula. (saya heran, kenapa sebuah cerita menarik selalu diawali dengan kesialan. Dengan kesalahan. Dengan keluguan.)
Keduanya saling mencintai hingga tidak memiliki daya untuk menjauh satu sama lain. Padahal, satu sama lain bisa saling membahayakan. Dalam rantai makanan, keduanya seperti predator dan mangsanya. Dua posisi yang seharusnya membuat mereka berlari dalam dua maksud yang berbeda. Dahsyatnya, keduanya memilih menari bersama-sama di bawah hujan. Menikmati pelangi di langit yang datang kemudian, sembari meletakkan tangan masing-masing sebagai penyangga kepala. Menyerah pada bumi. Semuanya lumer dalam satu kata yang diucapkan lamat-lamat, setengah berbisik, atau sambil mendesah untuk menambah kesan dramatis; “Aku percaya padamu. Kamu tidak akan menyakitiku.” (lho, saya bingung, saya membaca novel atau membayangkannya ya?)
Hujan masih turun dan belum ada tanda-tanda akan mereda. Saya masih belum tahu bagaimana ending dari cerita ini. Saya masih belum selesai membacanya. Kadang, terlalu cepat mengetahui akhir dari sebuah cerita membuatnya tidak lagi terasa seru. Saya tidak mau terlalu cepat. Saya masih ingin menikmati suasana yang dibangun dua tokoh utama dalam novel ini. Keduanya memilih untuk berperkara dengan bahaya, sehinga tiap detik kebersamaan adalah momen-momen yang sangat besar artinya.
Seperti yang saya harus lakukan beberapa waktu lalu; berperkara dengan bahaya karena meyakini bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah dengan menyampaikan sesuatu apa adanya. Meski pahit. Sekarang, saat semua terasa jauh, saya masih tetap yakin, meski lidah ini tidak mengucapkan, dengan setengah mendesah; “Aku tidak pernah bermaksud menyakiti(mu).”
Pejabat Kambrat
3 hari yang lalu