Selama bulan puasa ini, aku selalu mengikuti acara BCR (bukan BCL la yauw) di radio Prambors. BCR adalah singkatan dari balada cinta ramadan, sebuah judul sandiwara radio, yang sebenarnya tidaklah terlalu istimewa, dilihat dari sisi manapun. Hanya kebetulan yang membuatku selalu mendengarkannya setiap sore. Menemaniku pulang kerja. Aneh kan, aku mendengarkan sandiwara radio yang menurutku sendiri tidak istimewa, dan tidak bermanfaat banyak kalee. Aneh ya? Tapi dalam hal ini aku merasa tidak sendirian. Banyak homo sapien yang mirip ama aku.
Secara getoh, aku telah menjadi homo jakartensis, yang seringkali harus mendengar, melihat, mengecap, mengindera sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan (belajar dari Seno Gumira Ajidarma).
Secara getoh, aku telah menjadi homo jakartensis, yang seringkali harus mendengar, melihat, mengecap, mengindera sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan (belajar dari Seno Gumira Ajidarma).
Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang sangat menggugah hatiku dari sandiwara ini. Sesuatu yang sanggup penilaian artistikku menjadi lumer sama sekali. It's the soundtrack, dan sedihnya, aku belum tahu siapa yang nyanyi. Judulnya kepompong. Syair refrain-nya sangat menyentuh;
Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Indah bukan? Persahabatan itu yang sangat aku inginkan.
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Indah bukan? Persahabatan itu yang sangat aku inginkan.