Rabu, 18 Maret 2009

Sadat




Di belakang kami adalah Tempat di mana Sadat di tembak Mati oleh seorang tentara yang desertir karena Sadat berdamai dengan Israel. Yah, sebuah kesalahan yang membuat Sadat harus membayar dengan nyawanya sendiri

Selasa, 02 Desember 2008

Twilight

Berperkara Dengan Bahaya
Hujan turun sore ini. Mengingatkanku pada Twilight yang belum selesai saya baca. Sebuah novel yang sangat menarik, bercerita tentang sorang manusia, seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang laki-laki. Dan sialnya adalah seorang drakula. (saya heran, kenapa sebuah cerita menarik selalu diawali dengan kesialan. Dengan kesalahan. Dengan keluguan.)

Keduanya saling mencintai hingga tidak memiliki daya untuk menjauh satu sama lain. Padahal, satu sama lain bisa saling membahayakan. Dalam rantai makanan, keduanya seperti predator dan mangsanya. Dua posisi yang seharusnya membuat mereka berlari dalam dua maksud yang berbeda. Dahsyatnya, keduanya memilih menari bersama-sama di bawah hujan. Menikmati pelangi di langit yang datang kemudian, sembari meletakkan tangan masing-masing sebagai penyangga kepala. Menyerah pada bumi. Semuanya lumer dalam satu kata yang diucapkan lamat-lamat, setengah berbisik, atau sambil mendesah untuk menambah kesan dramatis; “Aku percaya padamu. Kamu tidak akan menyakitiku.” (lho, saya bingung, saya membaca novel atau membayangkannya ya?)

Hujan masih turun dan belum ada tanda-tanda akan mereda. Saya masih belum tahu bagaimana ending dari cerita ini. Saya masih belum selesai membacanya. Kadang, terlalu cepat mengetahui akhir dari sebuah cerita membuatnya tidak lagi terasa seru. Saya tidak mau terlalu cepat. Saya masih ingin menikmati suasana yang dibangun dua tokoh utama dalam novel ini. Keduanya memilih untuk berperkara dengan bahaya, sehinga tiap detik kebersamaan adalah momen-momen yang sangat besar artinya.
Seperti yang saya harus lakukan beberapa waktu lalu; berperkara dengan bahaya karena meyakini bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah dengan menyampaikan sesuatu apa adanya. Meski pahit. Sekarang, saat semua terasa jauh, saya masih tetap yakin, meski lidah ini tidak mengucapkan, dengan setengah mendesah; “Aku tidak pernah bermaksud menyakiti(mu).”

Rabu, 17 September 2008

Kepompong

Selama bulan puasa ini, aku selalu mengikuti acara BCR (bukan BCL la yauw) di radio Prambors. BCR adalah singkatan dari balada cinta ramadan, sebuah judul sandiwara radio, yang sebenarnya tidaklah terlalu istimewa, dilihat dari sisi manapun. Hanya kebetulan yang membuatku selalu mendengarkannya setiap sore. Menemaniku pulang kerja. Aneh kan, aku mendengarkan sandiwara radio yang menurutku sendiri tidak istimewa, dan tidak bermanfaat banyak kalee. Aneh ya? Tapi dalam hal ini aku merasa tidak sendirian. Banyak homo sapien yang mirip ama aku.

Secara getoh,
aku telah menjadi homo jakartensis, yang seringkali harus mendengar, melihat, mengecap, mengindera sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan (belajar dari Seno Gumira Ajidarma).

Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang sangat menggugah hatiku dari sandiwara ini. Sesuatu yang sanggup penilaian artistikku menjadi lumer sama sekali. It's the soundtrack, dan sedihnya, aku belum tahu siapa yang nyanyi. Judulnya kepompong. Syair refrain-nya sangat menyentuh;
Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu

Indah bukan? Persahabatan itu yang sangat aku inginkan.

Rabu, 10 September 2008

Mudik, oh mudik.... (Pengantar, tapi sampai terminal aja ya)

Mudik adalah identitas penting bagi kau urban Jakarta. Maknanya bukan hanya sekedar pulang kampung, bertemu keluarga, atau merayakan idul fitri. Orang Jakarta kayaknya belum merasa seru kalau tidak mudik. Pokoke mudik itu lebih penting dari kegiatan lainnya seperti liburan atau bahkan naik haji.

Karena penting, prepare yang dilakukan oleh orang Jakarta sangatlah gila-gilaan. Lihat Tanah Abang selama 2 minggu sebelum lebaran. Penuh dan menyesakkan. Orang Jakarta pada belanje oleh-oleh, lagi-lagi sebagai penanda bahwa menjadi urban itu awal kesuksesan.

Yang gak punya duit buat belanja, ngutang dulu. Hampir bisa dipastikan pemakaian kartu kredit pasti melonjak. Bank-bank panen bulan ini. Promo diskon di mana-mana.

itlah Penanda diri kita. Mudik juga adalah tanda bahwa kita masih sangat menghargai keluarga, nenek moyang, tradisi, cinta dan kerinduan. Mudik juga bisa diartikan bahwa terkadang kita perlu istirahat dari segala hal yang berbau jakarta. Panas, macet, saling sikut, kesombongan, keserakahan, dan seterusnya.

Di kampung, kita bertemu kembali dengan guru ngaji kita yang ikhlas. Guru sekolah yang tidak pernah menghitung-hitung jasanya terhadap kita. Jalan yang belum di aspal, seakan-akan menahan kita untuk melaju terlalu cepat dan lebih menikmati dunia sekitar. dan seterusnya.

selamat mudik ya......

Rabu, 03 September 2008

Daun-daun Berguguran

Daun-daun berguguran
di depan rumahku yang selama ini dilupakan oleh kabut
Pagi ini, jalanan melukis dirinya sendiri
Dan ketika segala sesuatu harus terasa luput
Aku menghamba pada cintamu, wahai sang puteri

belajar romantis

Sajak Cinta
Seno Gumira Ajidarma
langit muram, kau pun tahu angin menyapu musim,
gerimis melintas pada senja selintas,
aku tak tahu masihkah ketemu malamku
kamu adalah mimpi itu, siapa tahu dalam jejak senyap semalam menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Aku Puasa, Aku Sabar

Ketika Ramadlan datang, biasanya, secara pribadi aku tidak terlalu banyak menyiapkan diri. yang terbayang bagiku adalah justru pulang kampungnya, lengkap dengan kue dan kegembiraannya. Dan mungkin karena itu, Ramadlan kali ini seolah mengingatkanku; bahwa waktumu telah tiba untuk lebih menghayatiku. Dan tahun ini aku meminta kesabaranmu.

Tiga hari sudah aku berpuasa, dan kondisi yang terjadi membuatku harus bersabar. Aku puasa, Aku sabar, ya Allah, terimalah itu sebagai amalku.